darus patty

darus patty
ambon 11 oktober 1993

Jumat, 27 Juni 2014

Ramadhan 435 H / 2014 M

langit memerah, awan tak lagi kelabu lantunan tasbih dan zikir bergemah di atas sajjadah kusam ini, kesucian di atas kesucian berbahasakan kemurnian kekhufan whudu...bisikan azan dari menara menara katauhidan di atas bumi para khalifah, seakan mengajak jiwa teringat dalam pelukan dan dekapan hangat selimut di atas selimut kedua insan yang bagaikan intan seakan merobek keegoisan bocah bocah diatas kembungan lumpur kekuasan yang air matanya bagaikan hujan tak bermusim dan kemarau tak berhujung, pelepis kening kini tak sanggup meredup deras, gejolak mata yang digetarkan hati akan cinta kasih dari ayah dan ibuku yang tak pernah bosan mengkalamkan antara keimanan dan keilmuan yang kini harus kutempuh di atas kerikil dan tanah yg berbeda dari mereka pijaki.
ayah ibu dan keluarga aku tak pulang bukan berarti aku tak rindu.
tetapi perjuanganku disini adalah bentuk kerinduan yang mungkin tak sebanding dengan rasa rindumu..
aku rindu ocehanmu, aku rindu senyumanmu....
dan aku butuh doamu sebagai pedang perjuangan menegakan keimanan dan keilmuan itu...
Marhaban Ya Ramadhan....
1435 H / 2014 M.
mohon maaf lahir batin..

Jumat, 20 Juni 2014

Nama dan Gelarnya

Nama dan Gelarnya
Sesungguhnya, sebelum berlangsung pesta walimah, di mana Abu Thalib mengumumkan nama
"Ali" bagi puteranya yang keempat itu, Fatimah telah memberi nama "Haidarah", yang berarti
"Singa". Satu nama yang diambil persamaannya dari nama Asad, nama datuknya dari pihak ibu,
yang juga berarti "Singa".
Sementara orang mengatakan, bahwa yang memberi nama "Haidarah" ialah orang-orang
Qureiys. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa nama "Haidarah" itu sesungguhnya pemberian
ibunya sendiri.
7
Bukti sejarah ini dapat diketahui dari peristiwa perang-tanding, seorang lawan seorang, antara
Imam Ali r.a. melawan Marhaban. Dalam perang-tanding itu Marhaban mengagul-agulkan diri
dengan bait syairnya: "Aku inilah yang diberi nama Marhaban oleh ibuku!" Imam Ali r.a. segera
menukas dan melanjutkan bait syair itu dengan kata-katanya: "Aku inilah yang diberi nama
Haidarah oleh ibuku!"
Hanya saja nama yang diberikan ibunya menjadi tenggelam sesudah pengumuman ayahnya
dalam pesta walimah, yaitu "Ali". Ia lebih terkenal dengan nama Ali bin Abi Thalib.
Ketika di bawah asuhan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. pernah diberi julukan "Abu Turab",
yang artinya "Si Tanah". Pemberian julukan itu erat kaitannya dengan peristiwa ditemuinya
Imam Ali r.a. di satu hari sedang tidur berbaring di atas tanah. Yang menemuinya Nabi
Muhammad s.a.w. sendiri. Beliau menghampirinya dan duduk dekat kepalanya sambil
mengusap-usap punggungnya guna membuang debu-tanah. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w.
membangunkannya seraya berkata: "Duduklah, engkau hai Abu Turab!"
Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali r.a. Ia sangat bangga bila dipanggil dengan
nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani
Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali r.a. Mereka
mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah s.a.w. merupakan bukti
tentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya.
Disamping nama-nama tersebut di atas, Imam Ali r.a. juga terkenal dengan panggilan Abul
Hasan. Ini terjadi, setelah kelahiran putera beliau, Al Hasan. Selain dari nama-nama tersebut di
atas; Imam Ali r.a. banyak sekali mendapat gelar dan yang paling populer hingga sekarang ialah
"Imam".

Putera Ka'bah

Putera Ka'bah
Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan sesuatu
dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai
atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di
tangan Allah s.w.t.
Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu
dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orangtua itu akan
tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan.
Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a.? Di mana beliau dilahirkan? Di rumah Abu
Thalib atau di tempat lain?
6
Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., A1 Hakim dalam buku "Al Mustadrak", jilid III, halaman
483, antara lain mengemukakan: Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi
Muhammad s.a.w. mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali,
bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu
tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan
kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng
isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan
beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.
Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit.
Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang
dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada
suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan
terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan
tawafnya.
Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah
mulas. Disaat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang
dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya
memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap:
"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab
yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka
demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu
untuk dimudahkan kelahirannya".
Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra keempat
dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita
melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya
saja.
Kejadian yang luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondongbondonglah
mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi
yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. Bayi ini saudara misan
beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke
rumah Abu Thalib.
Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia
besar yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin
dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna
memeriahkan pesta itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Qureiys diundang
mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan
itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali"berarti "luhur".

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam
lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah
terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!
Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir,
sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid,
bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain
daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan
syaraf istimewa pula.
Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar
biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu
juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.
Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah.
Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik
dalam memujinya maupun dalam mencacinya.
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau
secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak
yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan
pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala
kebohongan tentang diriku."
Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya
kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya
kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."
Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan
sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi
Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh
penting Islam itu.
Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang
unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting
dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak
meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak
3
mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-
15 Hijriyah sekarang ini.
Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh
ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah
s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain.
Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda
itu.
Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir
secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan
kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah
s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan
ketidak-serasian.
Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada
tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu
terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol
dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa
berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini
melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.
Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w.
melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung
rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w.
Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel
hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam
Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.
Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah
s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil
menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.
Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan
merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini
sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh
keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya
pada Allah s.w.t.
Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan
kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia
diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.
Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan
perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh
yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi
berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.
Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat
berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini
mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam
bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.
Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim
tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak
4
jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar
golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali
r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.
Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua
kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam.
Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum
penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang
tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau
disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a.
sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu
sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka.
Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan
segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan
dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran
api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru:
"Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela
mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian
dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.
Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan
Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya
justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat
cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk,
bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia
menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai
"Tahkim bi Kitabillah".
Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas
perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu
mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja
mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali
r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.
Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan
pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik
kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan
pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia
menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan,
bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.
Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela
Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika
Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah
mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya
direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.
Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan
tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatasnamakan
Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan,
direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah
ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.
5
Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan
otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan
kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut
Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).
Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada
dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a.
identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan
tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis
terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.
Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin
dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi
apakah begitu jadinya?
Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal
akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang
bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.
Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini
mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumahtangganya,
peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah
s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa
khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah
kenangan.

Kata Mutiara Ali Bin Abi Thalib


Kata Mutiara Ali Bin Abi Thalib 



Cinta itu api, apapun yang dilewatinya akan terbakar,
Cinta itu cahaya, apapun yang dikenainya akan bersinar,
Cinta itu langit, apapun yang di bawahnya akan ditutupinya,
Cinta itu angin, apapun yang ditiupnya akan digerakkannya,
Cinta itu seperti air, dengannya hidup segalanya,
seperti bumi, Cinta bisa menumbuhkan semuanya.

“Janganlah engkau mengecam Iblis secara terang-terangan,
sementara engkau adalah temannya dalam kesunyian.”
 (Ali Bin Abi Thalib). 

“Sabar ada dua, yaitu : Sabar terhadap apa yang engkau benci, dan Sabar terhadap apa yang engkau sukai.” (Ali Bin Abi Thalib).

 

“Selemah-lemahnya manusia adalah orang yang tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yang telah dicari!”. (Ali Bin Abi Thalib). 

“Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani.” (Ali Bin Abi Thalib). 


“Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan; cinta; dan rasa hormat.” (Ali Bin Abi Thalib).


“Penyakit jiwa sifatnya jauh lebih buruk daripada penyakit raga.” (Ali Bin Abi Thalib).
“Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.” (Ali Bin Abi Thalib).


“Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mensia-siakan sahabat yang telah dicari.” (Ali Bin Abi Thalib).


“Perkataan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yang diwarisi dari nenek moyang.” (Ali Bin Abi Thalib). 


“Barangsiapa yang tidak menguasai matanya, maka hatinya tidak akan ada harganya.” (Ali Bin Abi Thalib).


“Sesungguhnya ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.” (Ali Bin Abi Thalib)


Setiap orang yang sedang disusul oleh kematian meminta lebih banyak waktu.
 
Sementara semua orang yang masih memiliki waktu membuat alasan untuk menunda-nunda." (Ali bin Abi Thalib)

Pengetahuan adalah teman saya, adalah dengan aku kemanapun aku pergi.
 Hatiku adalah wadah, bukan rak buku.” (Ali bin Abi Thalib)

Ilmu (pengetahuan) tanpa' aql (kecerdasan) adalah seperti memiliki sepatu tanpa kaki. Dan 'Aql tanpa' ilm adalah seperti memiliki kaki tanpa sepatu.” (Ali bin Abi Thalib)

Teman sejati Anda adalah orang yang berpartisipasi dalam usaha Anda dan demi keuntungan Anda, dan siap untuk menderita kerugian.” (Ali bin Abi Thalib)

Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan. (Ali bin Abi Thalib)

Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan; di saat membutuhkan, di belakang Anda, dan setelah kematian Anda. (Ali bin Abi Thalib)

Kemurahan hati Allah terhubung ke rasa syukur, dan syukur adalah terkait dengan peningkatan kemurahan-Nya.
 Kemurahan hati Allah tidak akan berhenti meningkatkan kecuali rasa terima kasih dari hamba berhenti. (Ali bin Abi Thalib)

Orang yang berpikir dan mengembangkan mencerminkan pandangan ke depan dan Visi. (Ali bin Abi Thalib)

Apakah aku tidak memberitahu Anda siapa Faqeeh sebenarnya? Dia adalah salah satu yang tidak membuat orang putus asa rahmat Allah, namun ia tidak memberikan mereka konsesi untuk tidak mematuhi Allah. Dia tidak membuat mereka merasa aman dari rencana Allah dan dia tidak meninggalkan Al-Qur'an. (Ali bin Abi Thalib)

Di antara perbuatan, ada empat yang paling sulit untuk menghiasi diri dengan: 1) Pengampunan ketika marah; 2) Kedermawanan di masa sulit; 3) Kesucian saat sendirian; Dan 4) Berbicara kebenaran dengan salah satu yang ketakutan itu.”
 (Ali bin Abi Thalib)

Diam adalah jawaban terbaik untuk orang bodoh
Kerendahan hati adalah hasil dari pengetahuan.
Forgivness adalah mahkota kebesaran.
Untuk membantu salah untuk menindas kanan.
Persahabatan tidak mungkin dengan seorang pembohong.
Permusuhan adalah pendudukan bodoh.
Kebanggaan blok kemajuan dan kebesaran kerusakan.
Menawarkan masalah dari pikiran kecil.
Tidak ada yang lebih dihormati daripada orang saleh.
Lidah Anda berbicara tahu apa itu terbiasa.
Perilaku seseorang adalah indeks ke pikiran seseorang.”
 (Ali bin Abi Thalib)

Kesabaran (Al-Sabar) menuju kepercayaan (Al-Iman) adalah seperti kepala ke seluruh tubuh: jika kepala terputus, maka tubuh akan membusuk.
 Dan orang yang memiliki kesabaran, memiliki iman. (Ali bin Abi Thalib)


Akhirat berjalan maju, dunia berjalan mundur. Jadilah generasi akhirat, bukan budak-budak dunia. Sebab hari ini adalah masanya beramal bukan perhitungan, besok masanya perhitungan bukan beramal (Ali bin Abi Thalib)

Biografiku

DJAMALUDIN DARUS PATTY
Lahir di Ambon, Maluku pada tanggal 11 Oktober 1993. Anak yang sulung (pertama) dari pasangan Ikram Patty dan Safa Dima, lelaki yang menggemari salah satu tokoh yang Islam yang agung Ali Bin Abi Thalib ini mengeyam bangku Sekolah Dasar di SD Negeri 5 Masohi Kabupaten Maluku Tengah pada  lulus tahun 2005, kemudian Ia melanjutkan ke SMP Negeri 2 Masohi lulus tahun 2008 dan di lanjutkan pada SMA Negeri 11 Ambon Maluku dan lulus pada tahun 2011, lelaki yang dikenal periang dan murah senyum ini juga pernah merasakan ketatnya lingkungan pendidikan yang telah memberikannya banyak ilmu pengetahuan yang menjadi pegangan hidupnya saat ini, ia juga pernah mencetak prestasi di kelas 1 SMA yakni menjadi juara sebak bola PORAK. Darus panggilan akrabnya sejak lulus sekolah ia bercita-cita ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di perguruan tinggi, yang sekarang ia tempuh di Makassar Sulawesi Selatan bertepatan di kampus Universitas 45, dengan suppor dari ayahanda dan dorongan semangat dari ibundanya ia berniat memutuskan mengambil jurusan ilmu perencanaan wilayah dan kota (Planologi). Segala perkuliahan  ia jalani dengan harapan, semangat, perjuangan dan doa yang menjadi salah satu pegangan ia di tanah daeng untuk mencapai gelar sarjana-1. Dikampus inilah pribadi yang baik ini  berkutat dengan ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota yang nantinya akan menjadi penentu kesuksesannya, sejuta harapan ia gantungkan di kampus yang di kenal sebagai kampus Perjuangan (45) ini peluang kecil selalu ia manfaatkan demi mendapat kesempatan besar, di study PWK ini ia menemukan jiwanya bertemu dengan orang-orang baru dan juga sahabat-sahabat yang tentunya memberi banyak ilmu dan juga kesempatan bagi Zodiak Libra ini, harapan ia saat ini adalah ia ingin bekerja yang sesuai dengan jiwa yang ia miliki, baginya bekerja tidak hanya menggunakan tenaga dan fikiran melainkan hati, bekerja dengan hati akan menjadikan seseorang bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, dengan hati yang ikhlas akan menjadikan hasil yang di dapatkan menjadi sebuah berkah, dan dengan keberkahan akan menjadikan hidup menjadi tenang dan damai. Harapan besar yang ia taman dalam hatinya saat ini adalah ingin sukses di bidangnya dan memberikan pencerahan serta mengabdi pada negara, karena menanamkan rasa cinta tanah air itu perlu !!!
sekian biografi saya yang singkat ini.

Wassalamualaikum......WR.....WB

fotoku

darus patty
darus patty